Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

--- Selamat Datang di DPC PK Sejahtera Kecamatan Tanjung Karang Pusat Kota Bandar Lampung, Perjuangan Kita Belum Selesai, Teruslah Berjuang Harapan Itu Masih Ada!!! ---

Selasa, Oktober 28, 2008

Inilah 8 Nominator Capres PKS

pks-tkp.ol, Jakarta, PKS telah menetapkan delapan nama yang dinominasikan sebagai calon presiden bagi Pilpres 2009. Mereka berasal dari tubuh partai berlambang bulan dua bulan sabit yang mengapit sebatang padi itu.

Kedelapan kader PKS yang menjadi nominator capres itu adalah Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Presiden PKS Tifatul Sembiring, Dubes RI untuk Saudi Arabia Salim Segaff Al Jufri, Sekjen PKS Anis Matta, Ketua Komisi X Irwan Prayitno, Ketua Majelis Pertimbangan PKS Suharna Surapranata, Ketua DPP Ekuin dan Teknologi PKS Sohibul Iman, dan Surahman Hidayat.

Nama-nama nominator, menurut Ketua Majelis Syura PKS Hilmi Aminuddin, diputuskan berdasarkan hasil sidang pleno Majelis Syura PKS ke-10. Sementara untuk memutuskan pemilihan capres akan dibentuk komisi ad hoc bernama Komisi Pilpres dan Capres. Namun, penetapan capres baru akan ditentukan setelah Pemilu Legislatif.

“Majelis Syura akan bersidang, siapa dari delapan nominator yang akan dipilih sebagai kata terakhir,” kata Hilmi, dalam konferensi pers di acara Musyawarah Majelis Syura PKS ke-10, di Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (26/10).

Anggota Mejelis Syura yang bersidang, tambah Hilmi, berjumlah 99 orang. Mereka terdiri dari 33 perwakilan di seluruh Indonesia. “Nantinya, mereka yang akan menyalurkan aspirasi, siapa saja yang nanti layak dari kedelapan nominator unrtuk dijadikan capres,” jelasnya.
sumber : inilah.com
[+/-] baca lebih lanjut ...

Sikap politik PKS

pks-tkp.ol, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendukung dan berperan aktif dalam usaha memerangi dan memberantas korupsi di Indonesia.

Sikap politik PKS terhadap beberapa kondisi aktual Bangsa

1.Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendukung dan berperan aktif dalam usaha memerangi dan memberantas korupsi di Indonesia. Oleh karena itu PKS memandang posisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tetap diperlukan di Indonesia dan bahkan harus diperkuat peranannya dengan menghadirkan KPK di daerah-daerah disertai dengan penyediaan tenaga-tenaga profesional yang memiliki integritas tinggi. PKS juga berharap KPK dapat masuk ke dalam masalah-masalah korupsi yang memiliki dampak besar bagi kehidupan bangsa Indonesia, seperti dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan BUMN-BUMN strategis.

2.Dalam menghadapi krisis global, PKS mengapresiasi kebijakan yang telah diambil Pemerintah dan Bank Indonesia sebagai langkah yang cukup efektif untuk meredam kepanikan. Namun ini harus dijaga keberlanjutannya untuk menghasilkan ekspektasi publik yang positif atas sistem keuangan dan ekonomi Indonesia, karena dampak krisis ini masih akan panjang. Dalam jangka pendek perlu dikembangkan langkah-langkah yang memberikan dukungan kongkrit kepada sektor riil diantaranya: stabilisasi harga, fasilitasi pengembangan pasar ekspor alternatif, menurunkan harga BBM, dll. Dalam jangka panjang untuk menghindari krisis lebih lanjut penting dilakukan perumusan kebijakan ekonomi alternatif yang telah terbukti handal dalam menghadapi gempuran krisis ekonomi nasional 1998 dan krisis global saat ini, seperti yang sudah mulai dirintis oleh Pemerintah RI melalui penerapan UU Perbankan Syariah dan UU Surat Berharga Syariah Nasional (Sukuk).

3.Dalam spirit menyambut hari Sumpah Pemuda, rasa tanggung jawab dan cinta terhadap masa depan bangsa PKS menuntut segera atas pengesahan RUU Pornografi dalam rangka komitmen melaksanakan Pancasila, UUD 1945, menjaga keutuhan NKRI, meningkatkan kualitas seni budaya dan moralitas bangsa dalam semangat menghormati bhinneka tunggal ika.

4.Pentingnya mengawasi realisasi pelaksanaan anggaran belanja negara 20% untuk pendidikan nasional agar tidak menjadi lahan korupsi baru yang bertentangan dengan semangat merealisasikan ketentuan UUD itu. KPK dituntut untuk jeli mengawasi hal ini.

5.Mendesak kepada pihak PT Lapindo Brantas untuk lebih bertanggung jawab terhadap korban-korban kasus lumpur Lapindo, dan mendesak Presiden untuk segera merevisi Keppres tentang perluasan peta daerah terdampak.

6.Pertimbangan Koalisi

PKS akan memperjuangkan Indonesia Madani yang adil, sejahtera dan bermartabat
PKS siap berkoalisi dengan berbagai komponen bangsa yang sejalan dengan platform PKS untuk membangun Indonesia.
PKS akan berkoalisi dengan pihak-pihak yang :
a.Reformis dan anti korupsi
b.Sungguh-sungguh berjuang untuk kesejahteraan bangsa
c.Mampu mengelola Pemerintahan dan Negara secara professional
Sidang pleno Majelis Syuro PKS ke-10 menetapkan kandidat pemimpin Nasional dari kader PKS sebagai berikut :

1. DR. H.M. Hidayat Nur Wahid
2. Ir. H. Tifatul Sembiring
3. DR. H. Salim Segaff Al Jufri
4. H.M. Anis Matta Lc.
5. Prof. DR. H. Irwan Prayitno
6. H. Suharna Surapranata M.T.
7. DR. H. Sohibul Iman MSc.
8. DR. H. Surahman Hidayat, M.A.

Jakarta, 26 Syawal 1429 H / 26 Oktober 2009
sumber : pk-sejahtera online
[+/-] baca lebih lanjut ...

Sabtu, Oktober 25, 2008

PKS Terlalu Percayadiri

Oleh : Hermawan Sulistiyo

pks-tkp.ol, Jakarta – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam Pemilu 2009 menargetkan perolehan suara 20%. Namun dalam survei mutakhir Lembaga Survei Indonesia (LSI) Oktober ini, PKS mengalami penurunan dibanding perolehan suara yaitu sebesar 6,3%. Padahal dalam Pemilu 2004 PKS mencapai 7,2%.
Meski demikian, posisi PKS bak magnet bagi parpol papan atas lainnya. Sebut saja PDI Perjuangan yang mulai melakukan pendekatan dengan PKS. Bahkan PDI Perjuangan menempatkan PKS sebagai calon partner nomor dua, jika Partai Golkar menolak pinangan PDI Perjuangan.

Namun, bagi pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo, perolehan PKS dalam Pemilu 2009 hanya akan mencapai 10%. “Harus diingat, PKS pemilu lalu hanya 7,2%,” kata Hermawan kepada INILAH.COM.

Selain itu, Kiki – demikian ia sering disapa – menilai, PKS saat ini terlalu percaya diri. Padahal, kata Kiki, jika PKS menggunakan basis kalkulasi pilkada, jelas tidak tepat.

“Memang dalam beberapa pilkada, calon PKS menang. Tapi harus diingat pilakda dan pemilu adalah dua hal yang berbeda,” tegasnya. Apa argumentasi Kiki yang memprediksikan PKS hanya meraih10%? Kenapa pula PKS dinilai over convident menjelang pemilu ini? Berikut ini wawancara lengkapnya:

Bagaimana pendapat Anda tentang langkah strategis bagi PKS untuk konteks saat ini?

Kalau bicara bukan idealitas, idelogosisasi. Artinya kalau orang bertahan dengan ideologinya, tidak peduli 1% atau berapa? Sama dengan PKS puas seperti kondisi saat ini. Tapi kalau PKS mau lebih perolehan suaranya, maka PKS tidak bisa eksklusif, tapi harus inklusif.

Sebetulnya, PKS secara perlahan-lahan telah memulai. Seperti tarik ulur persentuhan dengan Partai Demokrat dan SBY selama empat tahun terakhir ini, termasuk menarik Adang Darajatun menjadi cagub DKI yang bukan kadernya sendiri. Tapi persoalannya, PKS bisa meneruskan hal itu atau tidak? Kalau tidak, maka PKS cukuplah seperti saat ini saja.

Bagaimana pandangan Anda dengan menguatnya gagasan koalisi antara PDI Perjuangan dan PKS dalam Pilpres 2009 mendatang, karena dari masing-masing pihak berpikrian tidak ada lagi sekat ideologi di antara keduanya?

Ini menarik, karena baru dua tahun lalu saja, keduanya ada batas garis tegas. Seperti di PDI Perjuangan saat itu, boleh koalisi dengan partai mana pun, tapi asal bukan dengan PKS. Dan sebaliknya, sikap yang sama PKS terhadap PDI Perjuangan. Ini bukti, tidak ada musuh yang permanen dalam politik. Yang ada kepentingan yang permanen.

Tapi Anda melihat apakah memang tidak ada lagi batas-batas ideologi antara PDI Perjuangan dan PKS tersebut?

Ya. Coba kita lihat seluruh AD/ART partai politik dan kita hapus nama-namanya. Kita tidak tahu identifikasi partai. Jadi memang sama semua.

Bagaimana soal gagasan koalisi PDI Perjuangan dan PKS dalam Pemilu 2009 mendatang?

Kalaupun koalisi ini terjadi, saya melihat tidak cukup kuat kalau hanya PDI Perjuangan dan PKS. Jangan salah, PDI Perjuangan di atas kertas 20% massa solid. Dan di di PKS di atas kertas massa solid 7% atau nanti naik menjadi 10%. Maka total hanya 30%. Tapi, jika koalisi ini terjadi, maka belum tentu PDI Perjuangan plus PKS belum tentu 30%.

Kalau dari sisi internal antara PDI Perjuangan dengan PKS apakah akan menimbulkan resistensi di internal partai masing-masing?

Pasti ada resistensi. Salah satu upaya PKS dan PBB kan untuk memperjuangkan syariat Islam. Meski saat ini PKS menahan diri atas isu syariat Islam.

Artinya, dalam proses koalisi akan ada persoalan di tengah jalan?

Bisa saja. Tapi harus dicatat, koalisi itu tidak hanya bertujuan untuk pemenangan Pilpres saja, tapi koalisi selama lima tahun. Seperti dalam penyusunan kabinet. Itu ujian awal model koalisi seperti ini.

Jadi format koalisi seperti apa agar koalisi benar-benar bertujuan untuk menciptakan pemerintahan yang solid?

Saya melihat, jika PDI Perjuangan dan Partai Golkar berkoalisi, maka akan cukup kuat. Dari segi ideologi, mereka tidak bersebarangan. Tinggal atur kue di piring yang sama.

Lalu, bagaimana posisi ideal yang harus ditempuh PKS dalam Pemilu 2009 mendatang?

Saya melihat PKS terlalu percaya diri, karena kemenangan dalam pilkada. Tapi harus ingat pilkada itu figur daripada partai. Saya kira sulit bagi PKS menargetkan 15-20%. Masuk akal kalau PKS 10%, setidaknya maksimal 12%.

Dalam kondisi ini, PKS dapat menjadi penentu dalam pertimbangan politik. Tapi tidak dapat menentukan. PKS tidak bisa bertarung di antara partai besar dan menjadi penentu. Tetapi kalau dia memilih satu dari dua arus besar, maka PKS dapat menentukan keseimbangan politik.

Jadi apa yang rasional ditempuh PKS dalam Pemilu 2009?

Kalau perjuangan ideologis tanpa mempertimbangkan perolehan suara, maka bisa berkoalisi dengan partai Islam, seperti PPP dan PBB. Dengan model ini, koalisi akan kuat. Setidaknya dengan pola ini, dapat menjaga keseimbangan partai.
sumber : inilah.com
[+/-] baca lebih lanjut ...

Kader PKS Inginkan Hidayat Nurwahid

pks-tkp.ol, Jakarta - Nama mantan Presiden PKS Hidayat Nurwahid menjadi nama yang paling diinginkan para kader PKS untuk diusung dalam Pilpres 2009. "Hidayat yang paling kuat di sini," kata Presiden PKS Tifatul Semibiring di sela Musyawarah Majelis Syuro PKS yang berlangsung di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat (24/10).

Namun saat ini, lanjut Tifatul, perdebatan yang terjadi adalah apakah nama capres akan diumumkan sebelum pemilu legislatif atau setelah pemilu legislatif.

"Yang mengatakan harus diumumkan sebelum pemilu legislatif beralasan dapat mendongkrak suara, selain itu pasca legislatif tenggang waktunya sedikit untuk menyosialisasikan calon," imbuh Tifatul.

Soal calon eksternal, Tifatul mengatakan PKS sedang mempertimbangkan akan berkoalisi dengan partai mana saja. "PKS setuju syarat capres 30 persen dalam RUU Pilpres. Karena setelah dipikirkan pada periode 2004 lalu dukungan yang terlalu kecil pada capres yang memenangkan pilpres justru merepotkan sendiri. Gampang digoyang dan deadlock," paparnya.

Dengan syarat persentase yang tinggi itu juga bisa mencegah 'penumpang' yang ikut bergabung dalam koalisi. "Setelah menang baru pada merapat, jadi dari sekarang disyaratkan saja 30 persen. Bisa satu putaran (pilpres) dan hemat biaya sampai Rp 700 miliar. Cocok dengan situasi sekarang," ujar Tifatul.

Tifatul mengungkapkan, hasil kajian Litbang DPP PKS menunjukkan, kondisi politi bangsa lebih stabil jika presiden terpilih diupayakan didukung lebih dari 40 persen suara.
sumber : inilah.com
[+/-] baca lebih lanjut ...

PKS Atur Siasat Rebut Kursi RI-1

pks-tkp.ol, Jakarta – Akhir pekan ini, Dewan Syuro PKS bakal berkumpul di Jakarta. Salah satu bahasannya adalah soal calon presiden dari partai yang tengah bersinar ini. Hidayat Nur Wahid, Adhyaksa Dault, dan Tifatul Sembiring mengerucut. Di kalangan aktivis, pengurus, dan elit Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera berkembang gagasan mengajukan calon presiden dan wapres pada Pemilihan Presiden 2009. Gagasan ini memiliki resonansi di daerah-daerah.

Kabarnya, tiga kader PKS dielus-elus untuk maju tanding dalam perebutan kursi RI-1 itu. Mereka, ya Hidayat, Adhyaksa, dan Tifatul. Nama-nama ini termasuk yang akan dibicarakan Dewan Syuro yang bertemu pada 24-26 Oktober ini.

Kaderisasi partai ini memang berjalan lebih baik dibanding beberapa partai lain. Citra partai ini juga terus menaik. Tampilnya para politisi muda berpendidikan, mengusung moral (Islami), kepedulian sosial, dan beberapa kegiatan dengan cara damai, telah menjadi daya tarik tersendiri terhadap partai ini.

Diperkirakan, perolehan suara partai ini akan naik dibanding Pemilu 2004. Target 20% bisa mungkin tercapai. Minimal, PKS disebut-sebut bakal mengantongi 10% suara.

Jika perolehan suara PKS mendekati 15%, kemungkinan partai ini sudah akan mengusung capres sendiri dengan mengajak partai lain berkoalisi. Petinggi PKS menyebut mereka baru akan mengajukan capres jika perolehan suara Pemilu legislatif mencapai 20%. Bahkan, dengan perolehan sedikit di atas 10% saja, PKS pun bisa jika berkoalisi dengan partai lain.

Tiga tokoh yang disebut-sebut, memang figur terbaik PKS saat ini. Hidayat, Ketua MPR, mantan Presiden PKS. Master dan doktor studi Islam Universitas Madinah, Arab Saudi, ini memiliki pengalaman dan jaringan yang kuat.

Pengalaman dan jaringan Adhyaksa, doktor teknik kelautan lulusan IPB dan master sosiologi dari UI, juga kuat. Dia dipandang memiliki pergaulan luas dan popularitas menonjol.

“Adhyaksa Dault bakal jadi kuda hitam di PKS,” kata pengamat politik, M Qodari dari Indo Barometer. Dalam berbagai survei LSM, Adhyaksa jadi kader PKS paling populer.

Akan halnya Tifatul, memang baru mencuat setelah menjadi Presiden PKS. Alumnus Universitas Trisakti ini mulai diperbincangkan meski belum pengalaman di pemerintahan.

Sejauh ini, baru Dewan Pimpinan Wilayah PKS Provinsi Gorontalo yang secara tegas mengusulkan dua nama untuk menjadi calon presiden dalam Pemilu 2009. Dua nama yang diusulkan kepada Majelis Syuro tersebut yakni Nur Wahid dan Adhyaksa sekaligus sebagai capres dan cawapres.

“Memang hak menetapkan capres bukan ada di DPW, tapi di Majelis Syuro. Namun kami ingin mengakomodir suara dari seluruh elemen PKS hingga ke akar rumput,” kata Ketua DPW PKS Gorontalo, Abdurahman Bahmid.

Dua figur yang diusulkan tersebut, karena keduanya merupakan keinginan kader akar rumput PKS di Gorontalo. Keduanya pun memiliki kapasitas persyaratan menjadi seorang pemimpin. Keduanya muda, energik, dan sama-sama memiliki prestasi, dan serius dalam bekerja di sektor pemerintahan dan kenegaraan.

Prestasi dan komitmen Nur Wahid sejauh ini telah teruji. Dia figur yang membangun PKS, dari partai dengan 1% suara menjadi 7% lebih.

Sementara, Adhyaksa yang selama ini telah bergelut dalam pemerintahan sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, tegas dan berani. Posisinya yang pernah memimpin KNPI menjadi salah satu alasan obyektif mengusulkan tokoh tersebut.

Alasan memilih keduanya sangat obyektif dan secara kebetulan keduanya juga terdiri dari Jawa dan non-Jawa. Nur Wahid dari Jawa dan Adhyaksa juga masih keturunan Gorontalo dan Sulsel. Adhyaksa dan Nur Wahid sama-sama rendah hati dan menyatakan semua pencalonan itu diserahkan kepada Allah Swt dan Dewan Syuro PKS.
sumber : inilah.com
[+/-] baca lebih lanjut ...

Kamis, Oktober 23, 2008

OKI Kutuk Serangan Yahudi ke Masjid Al-Aqsa

pks-tkp.ol, JEDDAH -- Sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam (OKI) Prof. Ekmeleddin Ihsanoglu mengutuk keras aksi penerobosan berulang-ulang kelompok garis keras Yahudi ke dalam halaman Masjid Al Aqsa hingga ke pintu Al-Ghawanmeh dan Al-Magharbeh. Kelompok Yahudi garis keras dalam beberapa waktu belakangan ini menodai kesucian Al Aqsa dan mengotorinya dengan melakukan upacara agama Yahudi yang provokatif di halaman masjid suci itu.

Dalam suatu pernyataan, Sekjen OKI mengecam keras sikap kepolisian Israel yang melindungi para agresor Yahudi. Ia mengecam keras serangan itu dan menolak klaim pemerintah pendudukan Israel di kota Jerusalem bahwa halaman Masjidil Aqsa adalah ruang publik.

"(Halaman) Masjid adalah bagian integral Masjid Al Aqsa dan merupakan murni anugrah Islam," kata Sekjen OKI menegaskan.

Prof Ihsanoglu mengemukakan, aksi provokasi itu bisa meningkatkan ketegangan dan menyulut konflik yang lebih serius jika Masjid Al Aqsa selalu dijadikan sasaran agresi apapun.

sumber : republika online

[+/-] baca lebih lanjut ...

Nur Mahmudi Tes Pemkot Depok Baca Quran

pks-tkp.ol, Depok - Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, melakukan tes secara langsung terhadap tiga pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok untuk membaca Al quran. Nur Mahmudi didampingi beberapa ustad untuk menguji 110 pejabat struktural. Bersama dengan Ustad Ikhsan Abdi, Nur Mahmudi menguji tiga pejabat tinggi di lingkungan Pemkot Depok yakni Sekretaris Daerah (Sekda) Winwin Winantika, Kepala Dinas Kebersihan Lingkungan Hidup Walim Herwandi, dan Kepala Badan Pembangunan Daerah (Bapeda) Khamid Widjaya.

"Sebagai pelayan masyarakat diwajibkan mencintai Al quran agar memiliki semangat, motivasi, gairah menjunjung tinggi kebenaran," kata Nur Mahmudi di Depok, Kamis (23/10).

Sebanyak 110 pejabat struktural di lingkungan Pemkot Depok yang terdiri atas kepala dinas, kepala bagian, kepala kantor, kepala kecamatan, dan kepala kelurahan dites membaca Al quran. Menurut Nur Mahmudi, gairah para pejabat membaca Al quran diharapkan menjadi suri tauladan bagi masyarakat Depok. Tes baca Al quran ini diharapkan dapat dijadikan contoh oleh seluruh warga masyarakat Depok untuk benar-benar memahami Al quran.

Lebih lanjut ia mengatakan, bagi pejabat yang belum bisa membaca Al quran, Pemkot menyediakan tujuh orang ustad dan satu orang ustadzah yang siap membimbing mereka cara membaca Al quran dengan cepat.

Ketika ditanya apakah ada sanksi bagi pejabat yang tidak dapat membaca Al quran, orang nomor satu di Depok tersebut mengatakan tidak akan memberikan sanksi apa pun kepada mereka yang tidak bisa baca Al quran.

"Tidak ada hubungannya antara jabatan dan membaca Al quran," jelasnya.

Usai menjalani tes membaca Al quran, Sekretaris Daerah (Sekda) Winwin Winantika mengaku gugup karena disaksikan banyak orang. "Saya sudah biasa baca Al quran tapi jadi gugup karena disaksikan banyak orang," jelas Winwin yang dites membaca surat Al-Anfal.

sumber : inilah.com

[+/-] baca lebih lanjut ...

Selasa, Oktober 21, 2008

Tekad PKS Jadikan Jawa Sebagai Basis Pada Pemilu 2009

pks-tkp.ol, "Kita perlu antisipasi gejolak. Karena saat ini warga Nahdliyin lebih pandai dibandingkan dengan dulu. Kini mereka bisa melihat apa yang sudah diberikan partai kepada dia," kata Sekjen DPP PKS, Anis Matta saat memberikan taziah politik sebelum meresmikan kantor baru DPW PKS Jatim, di Jalan Kartini 50, Surabaya, Sabtu (18/10/2008).

Surabaya - PKS akan memanfaatkan terpecahnya suara warga Nahdliyin dan nasionalis yang sudah mulai mengalami krisis kepercayaan dan terpecah. Untuk itu PKS mentargetkan suara 20 persen pada Pemilu 2009.

Hal ini ditegaskan Sekjen DPP PKS, Anis Matta saat memberikan taziah politik sebelum meresmikan kantor baru DPW PKS Jatim, di Jalan Kartini 50, Surabaya, Sabtu (18/10/2008).

"Kita perlu antisipasi gejolak. Karena saat ini warga Nahdliyin lebih pandai dibandingkan dengan dulu. Kini mereka bisa melihat apa yang sudah diberikan partai kepada dia," katanya.

Sementara, Ketua DPW PKS Jatim, Ja'far Tri Kuswahyono menjelaskan, jika saat ini warga Nahdliyin mengalami ketidakpuasan. Hal ini membuat PKS akan memaksimalkan keadaan tersebut.

"Warga Nahdiyin dan nasionalis memang paling banyak di Jatim dan kini mereka mengalami ketidakpuasan terhadap partainya dan itu akan membuat perubahan," jelasnya.

Selain itu, dalam Pemilu 2009 PKS ingin membuat tanah Jawa sebagai basisnya. "Kita akan jadikan tanah Jawa sebagai tanah teritorial oleh karena itu, kita krimkan para caleg-caleg kita yang kuat," imbuhnya.

sumber : pk-sejahtera online

[+/-] baca lebih lanjut ...

Hidayat & Adhyaksa Capres PKS?

pks-tkp.ol, Dua nama yang diusulkan oleh DPW PKS kepada Majelis Syuro DPP tersebut yakni Hidayat Nur Wahid dan Adhyaksa Dault, sebagai Capres RI periode 2010 hingga 2015.

Gorontalo - Seusai menggelar Musawarah Kerja Wilayah (Muskerwil), Minggu (19/10) malam, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Gorontalo akhirnya mengusulkan dua nama untuk menjadi calon presiden dalam Pemilu 2009.

Dua nama yang diusulkan oleh DPW PKS kepada Majelis Syuro DPP tersebut yakni Hidayat Nur Wahid dan Adhyaksa Dault, sebagai Capres RI periode 2010 hingga 2015.

"Memang hak menetapkan capres bukan ada di DPW, tapi ada di Majelis Syuro. Namun kami ingin mengakomodir suara dari seluruh elemen PKS hingga ke akar rumput," kata Ketua DPW PKS Provinsi Gorontalo, Abdurahman Bahmid.

Dua figur yang diusulkan tersebut, kata dia, karena keduanya merupakan keinginan kader akar rumput PKS di Gorontalo serta memiliki kapasitas yang memenuhi persyaratan menjadi seorang pemimpin. "Keduanya muda, energik, dan sama-sama memiliki prestasi," tukasnya.

Ia menambahkan, prestasi dan komitmen Hidayat sejauh ini telah teruji di antaranya dengan membangun PKS yang tadinya hanya memperoleh suara satu persen menjadi tujuh persen lebih.

Sementara, Adhyaksa Dault yang selama ini telah bergelut dalam pemerintahan sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga serta memimpin KNPI, juga menjadi salah satu alasan obyektif dalam mengusulkan tokoh tersebut.

"Alasan memilih keduanya sangat obyektif dan secara kebetulan keduanya juga terdiri dari Jawa dan non Jawa. Hidayat dari Jawa dan Adhyaksa juga masih keturunan Gorontalo," jelasnya.

Dalam rekomendasi hasil Muskerwil yang digelar tersebut, PKS bertekad membangun rasa kebersamaa dalam bekerja dan berkarya maksimal untuk memenuhi target partai.

Selain itu, PKS juga menegaskan kembali target pemenangan partai 30 persen kursi dalam Pemilu 2009 di Provinsi Gorontalo, baik untuk DPRD Provinsi maupun kabupaten dan kota, serta menyerukan kepada seluruh kader untuk memaksimalkan kerja mencapat target itu.

sumber : pk-sejahtera online

[+/-] baca lebih lanjut ...

PKS: Hidayat atau Tifatul

pks-tkp.ol, Kemungkinan kader yang akan mereka ajukan adalah Hidayat Nurwahid, mantan Presiden PKS yang saat ini menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pilhan kedua adalah Tifatul Sembiring, Presiden PKS.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menargetkan perolehan suara Pemilu legislatif 2009 sebesar 20 persen. Jika target itu terpenuhi, PKS akan mengajukan Calon Presiden (Capres) sendiri. Dua kader PKS paling berpeluang jadi Capres atau Cawapres (Calon Wakil Presiden) adalah Hidayat Nurwahid atau Tifatul Sembiring. Kaderisasi partai ini berjalan sangat baik dibanding beberapa partai lain. Citra partai ini juga terus menaik. Tampilnya para politisi muda berpendidikan dan mengusung moral (Islami), kepedulian sosial dan beberapa kegiatan dengan cara damai telah menjadi daya tarik tersendiri partai ini. Diperkirakan, perolehan suara partai ini akan naik dibanding Pemilu 2004. Target 20 persen bisa mungkin tercapai, paling sedikit suara 10 persen kemungkinan besar akan tercapai.

Jika preolehan suara PKS mendekati 15 persen, kemungkinan partai ini sudah akan mengusung Capres sendiri dengan mengajak partai lain berkoalisi, walaupun para petinggi partai ini menyebut bahwa partai ini baru akan mengajukan Capres jika perolehan suara Pemilu legislatif mencapai 20 persen. Bahkan dengan perolehan sedikit di atas 10 persen saja, PKS kemungkinan sudah akan mengajukan Capres sendiri berkoalisi dengan partai lain.

Jika PKS mengajukan Capres sendiri, kemungkinan kader yang akan mereka ajukan adalah Hidayat Nurwahid, mantan Presiden PKS yang saat ini menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pilhan kedua adalah Tifatul Sembiring, Presiden PKS. Kedua kader PKS ini berusia lebih muda dibanding beberapa tokoh (kandidat Capres) lainnya. Hidayat dan Tifatul akan berusia 48 tahun saat Pilpres 2009 diadakan. Sementara, SBY menginjak usia 60, Megawati Soekarnoputri 62 tahun, Wiranto (62), Sultan Hamengku Buwono X (63), Akbar Tandjung (64), dan Sutiyoso (65), Amien Rais (65), M Jusuf Kalla (67) dan Abdurrahman Wahid (69).

Jadi Hidayat atau Tifatul bisa mewakili generasi muda (generasi baru) dalam pertarungan merebut kepemimpinan nasional pada 2009 nanti. Dalam hal apakah kedua tokoh ini akan benar-benar tampil sanagt tergantung pada keputusan PKS. Perlu dicatat, dalam hal penentuan siapa di antara kedua tokoh ini atau kader PKS lain, menjadi Capres atau Cawapres, sejauh ini, partai ini sangat taat pada mekanisme partai. Segala keputusan diambil dalam mekanisme partai yang berpuncak pada Majelis Suryo. Dan siapa pun yang ditetapkan melalui mekanisme partai, selalu mendapat dukungan sepenuhnya dari para kader dan kepengurusan di semua tingkatan. Mesin politik partai ini berjalan dengan baik.

Hal ini pula yang memberi nilai tambah pada posisi tawar partai ini jika berkoalisi dengan partai atau tokoh lain. Sementara, dengan partai mana dan tokoh mana PKS akan berkoalisi sangat ditentukan pada persamaan visi dan misi. Berkoalisi dengan partai berbasis Islam lainnya, sangat memungkinkan. Namun secara taktis dan strategis, PKS lebih memungkinkan berkoalisi dengan Partai Hanura, Partai Demokrat, Partai Golkar dan/atau PDI-P.

Tapi masalahnya, keempat partai ini berniat mengajukan Capres sendiri, apalagi Partai Demokrat dan PDIP sudah pasti mengusung Capres sendiri yakni SBY dan Megawati. Maka jika PKS mengusung Capres sendiri, paling berpeluang berkoalisi dengan Partai Golkar. Tapi jika dilihat dari kedekatan tokoh (figur), PKS kemungkinan akan berkoalisi dengan Partai Hanura (jika Hanura meraih suara 3-5 persen saja dalam Pemilu legislatif) dengan mengusung Wiranto sebagai Capres berpasangan dengan Hidayat Nurwahid atau Tifatul Sembiring sebagai Cawapres.

PKS sendiri sudah mulai menghitung kekuatan koalisi pasca Pemilu 2009. Menurut Presiden PKS Tifatul Sembiring, PKS menyadari bahwa pada 2009 belum mampu menjadi partai yang mendapat suara mayoritas (single majority). Dijelaskan, sistem pemilu dengan multipartai sederhana seperti yang berlaku di Indonesia sekarang ini dinilai tidak mungkin menciptakan single majority. Tifatul memprediksi, dalam Pemilu 2009 tidak akan ada partai yang meraih suara di atas 25 persen.

Tifatul mengatakan, mozaik kebhinekaan kekuatan parpol di Indonesia sangat cair. Menurutnya, Indonesia tak lagi ’kuning. Kini, parta-partai papan atas dan tengah saling berbagi kekuatan di seluruh wilayah Indonesia.

Tifatul mengungkapkan, beberapa studi terakhir menemukan koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi kekuatan paling ideal dalam membangun pemerintahan. “Riset terakhir, PDIP dan PKS paling kuat kalau membentuk koalisi,” ujar Tifatul.

Namun, ungkap Tifatul, visi PKS tentang calon presiden ideal di 2009 tak segaris dengan PDIP. Dalam visi PKS, calon presiden ideal harus dari kalangan muda. “Kita butuh presiden balita, bawah lima puluh tahun,” ungkapnya. Sementara PDI-P telah memutuskan akan kembali mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai Capres pada Pemilu 2009.

Tifatul menjelaskan, permasalahan yang dihadapi Indonesia sangat kompleks. Karena itu, katanya, seorang calon presiden harus mempunyai pemikiran segar dan matang untuk menemukan solusi atas kesulitan bangsa. Dia harus tahu what dan how-nya. Yang pasti, kata Tifatul, permasalahan ini tidak bisa diatasi dengan iklan di TV, main film, dan nyanyi-nyanyi.

Sementara itu, dalam beberapa kali survei internal PDI-P untuk menjaring Cawapres pendamping Megawati, nama Hidayat Nur Wahid salah satu nominasi unggulan. Dari lima nominasi unggulan, hanya Hidayat yang berumur di bawah 50 tahun. Perpaduan Megawati (PDI-P) dan Hidayat Nurwahid (PKS) dinilai berbagai pihak cukup ideal merepresentasikan pelangi kebhinnekaan. Pasangan ini, diprediksi akan sangat berpeluang memenangkan Pilpres 2009.

Pilihan lain, kemungkinan PKS akan berkoalisi dengan Partai Golkar. Sebagaimana pernah dikemukakan Ketua Partai Golkar Priyo Budi Santoso, salah satu alternatif yang dipertimbangkan Partai Golkar dalam pemilu presiden nanti adalah menggandeng partai politik berbasis Islam. Untuk Capres-Cawapres, salah satu alternatif Ketua Umum Partai Golkar M Jusuf Kalla disandingkan dengan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid. “Kombinasi itu bisa dibalik menjadi Hidayat-Kalla kalau perolehan suara PKS pada Pemilu 2009 mengungguli Partai Golkar,” kata Priyo.

Kemungkinan lain, yang juga berpeluang meraih suara signifikan, jika tidak jadi pemenang, paling tidak di urutan kedua, PKS berkoalisi dengan Partai Demokrat yang diperkirakan perolehan suara Pemilu legislatifnya akan mencapai 10-12 persen. Koalisi ini akan mengusung SBY-Hidayat atau SBY-Tifatul.

Dari berbagai kemungkinan, yang paling pasti adalah PKS akan mengusung kadernya (Hidayat atau Tifatul) sebagai Cawapres. Partai ini, diperkirakan akan mengajukan Cawapres sebagai syarat utama untuk berkoalisi dengan partai lain dalam Pilpres 2009. Kemudian, setelah itu pada Pilpres 2014 akan mengajukan Capres sendiri. Partai ini diperkirakan akan cukup siap menempatkan kadernya sebagai Presiden 2014-2019.

sumber : pk-sejahtera online

[+/-] baca lebih lanjut ...
FormulaBisnis.com