pks-tkp.ol, Mengobati kerinduan para mujahidah dakwah se-Tanjung Karang Pusat, acara ifthor dapat terselenggara di kediaman Ummi Erwinda, di Gotong Royong. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara yang diprogramkan setiap tahunnya. Kegiatan berlangsung dengan tertib dan dihadiri hampir seluruh Akhwat dan Ummahat (16/09/2008). Rangkaian acara berlangsung dengan hikmat dan diawali dengan tilawah pada pukul 17:00 selama 15 menit. Disusul dengan taushiah yang disampaikan oleh Ummu Ridho. Acara ini selain mengobati kerinduan juga sebagai pengobat dari kesedihan atas kekalahan pada pilgub tanggal 03/09 kemarin. Dengan upaya dan doa rupanya Allah Swt belum berkenan melimpahkan amanah kepemimpinan Lampung kepada PKS. Kelapangan dada harus membuktikan kesabaran yang harus dilahirkan untuk menghindari kelemahan beramal di masa yang akan datang.
Taushiah yang disampaikan terkait dengan undangan Rasulullah kepada para sahabat. Beliau mengundang para sahabat untuk ifthor jama'i di kediaman Ali bin Abi Tholib. Saat menghidangkan madu yang diletakkan di atas piring yang indah, jatuhlah sehelelai rambut dari Fatimah. Dengan kecerdasannya Rasulullah menanyakan kepada para sahabat, apa yang dapat "diterjemahkan" dari sehelai rambut yang berada di atas madu dan madu tersebut berada di atas piring yang indah.
Berbagai pendapat datang dari para sahabatnya. Abu Bakar angkat bicara, begitu juga Umar. Ali pun tak kalah ketinggalan. Sampai yang memiliki rambut yaitu Fatimah juga dimintai pendapatnya oleh Rasulullah.
Lalu apa hikmah dari taushiah tersebut? Sebuah piring yang indah dapat diibaratkan wadah dari iman, madu adalah iman dan manisnya iman, sementara rambut adalah jalan yang kita lalui. Sungguh berat jalan untuk menuju manisnya iman, dan barang siapa dapat melampuinya maka kemanisan (nikmatnya) iman tentu akan kita rasakan.
Wallua'lam bishshowab.
kontributor : Yenny Thamrin (Naskah) & Musliah Takaful (Foto)